Analisis Tingkat Risiko Selat Hormuz: Perbandingan Masa Lalu dan Sekarang

Peningkatan ketegangan antara blok AS-Israel dan Iran telah menyebabkan Selat Hormuz kini berada pada tingkat risiko tertinggi dalam sejarahnya. Wilayah ini tidak hanya berfungsi sebagai jalur perdagangan internasional, tetapi juga menjadi arena di mana ketegangan politik dapat meledak menjadi konflik bersenjata kapan saja. Transformasi Selat Hormuz menjadi titik kritis bagi stabilitas global menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi saat ini jauh lebih serius dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Tantangan di Selat Hormuz: Meminta Perlindungan Militer
Dalam konteks ini, Iran telah secara efektif memblokir Selat Hormuz, yang mendorong industri pelayaran untuk meminta perlindungan militer dari AS bagi kapal tanker minyak mereka. Namun, pengalaman di masa lalu menunjukkan bahwa operasi pengawalan semacam ini penuh dengan risiko. Para analis militer berpendapat bahwa kekuatan militer Iran saat ini jauh lebih tangguh dibandingkan dengan yang ada di dekade-dekade sebelumnya, sehingga memberikan tantangan yang lebih besar bagi operasi pengawalan yang dilakukan oleh Angkatan Laut AS.
Sejarah Perang Tanker
Pada akhir dekade 1980-an, efek dari Perang Iran-Irak menyebabkan lonjakan serangan terhadap kapal komersial dan tanker minyak di Teluk Persia. Kedua pihak terlibat dalam menargetkan kapal-kapal tanker yang melintas untuk menghentikan ekspor minyak lawan, yang dikenal sebagai “Perang Tanker.” Ketika kapal tanker Kuwait mengalami serangkaian serangan, pemerintah Kuwait meminta bantuan untuk perlindungan dari AS. Sebagai respons, AS mengubah bendera kapal tanker Kuwait menjadi bendera Amerika dan meluncurkan Operasi Earnest Will, di mana Angkatan Laut AS ditugaskan untuk mengawal kapal-kapal tersebut.
Operasi ini berlangsung dari Juli 1987 hingga September 1988, di mana Angkatan Laut AS melakukan pengawalan langsung terhadap kapal tanker, berpatroli di Teluk, dan melaksanakan misi pembersihan ranjau untuk menjaga keselamatan jalur pelayaran. Namun, meski operasi telah dimulai, serangan terhadap kapal-kapal tanker tetap berlanjut. Pada Juli 1987, sebuah kapal tanker Kuwait terjerat ranjau yang ditanam oleh Iran di Teluk Persia. Meskipun tidak ada korban jiwa, kerusakan parah yang dialami kapal tersebut menjadi simbol risiko yang melekat pada misi pengawalan.
Serangan dan Kerugian
Di bulan Oktober tahun yang sama, kapal tanker Kuwait lainnya, yang benderanya juga diganti menjadi bendera Amerika, diserang oleh rudal anti-kapal Iran di perairan Kuwait, melukai beberapa anggota awak. Insiden ini menjadi salah satu contoh nyata dari penargetan langsung terhadap kapal-kapal komersial yang beroperasi di Teluk Persia.
Serangan tidak hanya menimpa kapal-kapal komersial; kapal-kapal militer AS juga mengalami serangan. Pada April 1988, sebuah fregat Angkatan Laut AS yang sedang berpatroli di Teluk Persia terjebak dalam ranjau yang ditanam oleh Iran, yang menyebabkan kerusakan serius dan melukai sepuluh orang dari awak kapal. Kapal tersebut tengah menjalankan misi pembersihan ranjau sebagai bagian dari Operasi Earnest Will.
Sebelumnya, pada Mei 1987, fregat Angkatan Laut AS lainnya di Teluk juga diserang oleh rudal anti-kapal yang diluncurkan oleh pesawat tempur Irak, mengakibatkan kematian 37 awak kapal. Meskipun peristiwa tersebut terjadi sebelum dimulainya operasi pengawalan, hal ini tetap menjadi bukti nyata tentang bahaya yang ada di Teluk pada masa itu.
Kompleksitas Situasi Saat Ini
Dengan demikian, meskipun misi perlindungan kapal tanker pada tahun 1980-an mengandung risiko yang signifikan, situasi saat ini jauh lebih rumit. Pada dekade 1980-an, ancaman utama dari Iran adalah ranjau, kapal-kapal cepat, dan rudal anti-kapal yang terbatas. Namun saat ini, Iran memiliki berbagai kemampuan asimetris yang jauh lebih canggih.
Perkembangan Kemampuan Militer Iran
- Iran memiliki beragam rudal anti-kapal dengan jangkauan ratusan kilometer, termasuk jenis supersonik dan balistik.
- Kemampuan drone Iran telah berkembang pesat, dengan pengoperasian drone pengintai dan serang, termasuk amunisi jelajah “Shahed.”
- Drone maritim (perahu peledak tak berawak) kini muncul sebagai ancaman baru yang mampu menyerang kapal perang atau tanker secara langsung.
- Angkatan Laut AS memperkirakan Iran memiliki sekitar 5.000 hingga 6.000 ranjau, termasuk ranjau kontak, magnetik, akustik, dan ranjau pintar.
- Iran dapat mengalahkan pertahanan udara dengan meluncurkan sejumlah besar senjata berbiaya rendah.
Senjata-senjata ini menjadi ancaman serius mengingat geografi Selat Hormuz. Dengan lebar selat yang paling sempit sekitar 33 kilometer dan jalur pelayaran yang sesungguhnya hanya beberapa kilometer, serangan ranjau, rudal, dan drone secara bersamaan dapat dengan mudah mengakibatkan lumpuhnya lalu lintas maritim. Oleh karena itu, banyak ahli berpendapat bahwa tingkat risiko operasi pengawalan kapal tanker yang diperbarui di Selat Hormuz saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada pada tahun 1980-an.
Respon Internasional dan Tantangan di Masa Depan
Saat ini, meskipun ketegangan di Teluk meningkat, Angkatan Laut AS belum menerjunkan kapal perang ke Selat Hormuz. Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, dalam konferensi pers pada tanggal 16, menolak permintaan presiden AS untuk dukungan angkatan laut guna membuka kembali Selat Hormuz. Ia mempertanyakan, “Apa yang diharapkan Trump dari beberapa kapal pengawal Eropa di sana? Apakah dia percaya kapal-kapal itu dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh Angkatan Laut AS yang perkasa itu sendiri?”
Situasi ini mencerminkan rasa skeptis yang ada di antara sekutu-sekutu AS, di mana banyak negara enggan terlibat dalam operasi yang dianggap terlalu berisiko, terutama ketika Angkatan Laut AS sendiri belum mengambil tindakan. Washington Post mencatat bahwa Trump mencari dukungan dari sekutu untuk mengendalikan Selat Hormuz, tetapi banyak negara enggan melakukannya, mengingat risiko yang tinggi dan kompleksitas situasi yang ada.
Dengan meningkatnya ketegangan dan ancaman baru yang muncul, analisis tingkat risiko Selat Hormuz menjadi semakin penting. Pengamat internasional dan analis keamanan harus terus memantau perkembangan situasi di selat ini, mengingat dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan, tetapi juga berpengaruh pada stabilitas ekonomi dan politik global.
➡️ Baca Juga: Peningkatan Kasus Covid-19: Masyarakat Diminta Waspada
➡️ Baca Juga: Panduan Lengkap SIAKAD untuk Mahasiswa Dalwa