Film “Dayak” Gelar Audisi untuk Tampilkan Identitas dan Kebanggaan Budaya Kalimantan

Film merupakan salah satu medium yang mampu menyampaikan nilai-nilai budaya dan identitas suatu daerah. Di tengah upaya pelestarian budaya lokal, film “Dayak” hadir sebagai jawaban untuk menampilkan kekayaan budaya Kalimantan. Memulai produksi pada tahun 2026, proyek ambisius ini mengadakan audisi terbuka di lima provinsi di Kalimantan, menjadikannya sebagai wadah bagi talenta lokal untuk mengekspresikan diri dan berkontribusi pada dunia perfilman.
Langkah Awal Produksi Film “Dayak”
Ketua Tim Produksi dan Inisiator proyek, Thoesang TT Asang, menjelaskan bahwa proses pendaftaran audisi telah dimulai sejak 1 April dan akan ditutup pada 1 Juni 2026. Setelah fase pendaftaran, tim produksi akan melanjutkan ke tahap audisi dan casting yang menjadi langkah penting sebelum pengambilan gambar dimulai.
“Kami telah memulai pendaftaran. Setelah itu, kami akan melaksanakan audisi dan casting sebelum memulai syuting,” ungkap Pangkalima Asang saat berbincang di Balikpapan.
Kisah yang Mewakili Budaya Dayak
Film ini tidak hanya menonjolkan aksi, tetapi juga mengisahkan romansa terlarang yang berkaitan dengan hukum adat, elemen mistis seperti legenda mandau terbang, dan sentuhan humor yang akan memperkaya narasi. Dengan tema yang beragam, film ini diharapkan dapat menarik perhatian penonton dari berbagai kalangan.
Proses Audisi yang Luas
Salah satu hal menarik dari audisi ini adalah lokasinya yang tidak terpusat di satu tempat. Tim produksi merancang proses seleksi di beberapa kota di Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Beberapa kota yang menjadi tempat pencarian bakat antara lain:
- Samarinda
- Tarakan
- Banjarbaru
- Palangkaraya
- Pontianak
Peluang Bagi Semua Kalangan
Produser eksekutif, Abriantinus, menegaskan bahwa proyek film “Dayak” memberikan kesempatan yang luas bagi siapa saja untuk berpartisipasi. Ia berharap film ini dapat menggali potensi akting dari talenta lokal, tidak hanya dari generasi muda tetapi juga dari berbagai kalangan usia.
“Kami ingin menggali kemampuan akting dari semua lapisan masyarakat, karena karakter yang ada dalam film ini sangat beragam,” tambahnya.
Menelusuri Sejarah Masyarakat Dayak
Lebih dari sekadar hiburan, film “Dayak” dirancang sebagai karya sinematografi yang merekam perjalanan panjang kehidupan masyarakat Dayak dari abad ke-5 hingga abad ke-18. Cerita dalam film ini akan menggambarkan kehidupan masyarakat yang erat kaitannya dengan hutan, nilai-nilai adat, serta perjuangan mereka dalam menjaga martabat budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Keterlibatan Tokoh Publik
Keterlibatan tokoh publik juga menjadi salah satu aspek penting dalam proyek ini. Daud Yordan, misalnya, tidak hanya memberikan dukungan dari sisi kelembagaan, tetapi juga direncanakan akan berperan sebagai aktor dalam film ini. Hal ini diharapkan dapat menarik perhatian lebih banyak penonton.
Selain itu, film ini juga mendapatkan dukungan dari berbagai tokoh masyarakat dan pemerintah daerah. Tim produksi pun telah melakukan komunikasi dengan sejumlah perwakilan rakyat dari Kalimantan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Menampilkan Kekayaan Budaya Dayak
Audisi film ini tidak hanya berfokus pada proses casting, tetapi juga akan diwarnai dengan pameran industri kreatif, UMKM, dan kerajinan tradisional Dayak. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya untuk memperkenalkan kekayaan budaya Dayak kepada masyarakat luas.
Pangkalima Asang berharap film ini dapat menjadi sarana edukasi sekaligus kebanggaan untuk seluruh masyarakat. “Ini bukan hanya sekadar film, tetapi juga karya anak negeri. Dayak untuk Indonesia,” tegasnya.
Potensi Kerjasama Internasional
Ketua II Tim Produksi Humas dan Logistik, Lawadi Nusah, menambahkan bahwa ada kemungkinan film ini juga akan melibatkan beberapa negara Asia yang memiliki suku Dayak. “Kita semua tahu bahwa di Malaysia, yang masih berada di tanah Borneo, terdapat suku Dayak, seperti Dayak Iban dan Biduyah. Jika memungkinkan, mereka juga akan terlibat,” tuturnya.
Dukungan dari Kementerian Kebudayaan
Dukungan penuh juga datang dari Kementerian Kebudayaan RI, yang memberikan pengakuan akan pentingnya pelestarian budaya Dayak melalui film ini. Sebagai suku asli Kalimantan, masyarakat Dayak dikenal dengan karakter yang kuat, mandiri, dan komitmen tinggi dalam mempertahankan wilayah serta tradisi mereka.
Nilai-nilai inilah yang ingin dihidupkan kembali melalui layar lebar, sehingga film ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga sebagai jendela untuk memahami kekayaan budaya Nusantara yang telah hidup di pedalaman hutan Kalimantan selama berabad-abad.
Rencana Produksi yang Ambisius
Jika semua berjalan sesuai rencana, proses syuting film “Dayak” akan berlangsung selama satu bulan setelah tahap casting selesai. Film ini ditargetkan untuk dirampungkan pada tahun yang sama, sehingga masyarakat dapat segera menikmati hasil karya ini.
Dengan melibatkan budayawan, seniman, dan putra-putri asli Dayak, film ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang akurat dan mendalam mengenai kehidupan masyarakat Dayak, serta menjadi sumber kebanggaan bagi masyarakat Kalimantan dan Indonesia secara keseluruhan.
➡️ Baca Juga: Laptop Terbaik untuk Editing Konten Kreator yang Meningkatkan Produktivitas Anda
➡️ Baca Juga: Polisi Korsel Gagal Geledah dan Sita Barang dari Kantor Kepresidenan