Dorong Positive Parenting di Era AI dengan Solusi Keilmuan dari APMNU di Muktamar NU

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), tantangan dalam pola asuh dan pendidikan anak semakin kompleks. Asosiasi Profesor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU) mengambil langkah strategis dengan berpartisipasi dalam Muktamar ke-35 NU yang berlangsung dari tanggal 27 hingga 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Melalui forum ini, APMNU berupaya mendorong konsep positive parenting di era AI dengan memanfaatkan solusi berbasis riset.
Pentingnya Peran Profesor dan Akademisi Perempuan
Keberadaan profesor dan akademisi perempuan di lingkungan Nahdlatul Ulama sangat penting dalam menjawab berbagai tantangan masyarakat. Kontribusi mereka diharapkan dapat memberikan solusi yang lebih inklusif dalam menghadapi isu-isu sosial yang berkembang.
Dalam konteks ini, APMNU berkomitmen untuk menjadi wadah bagi para akademisi perempuan, memberikan dukungan yang diperlukan untuk menghadapi dinamika zaman. Melalui keterlibatan aktif mereka, diharapkan dapat tercipta solusi inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Mendorong Inovasi dalam Pendidikan dan Pola Asuh
Ketua Umum APMNU, Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, M.A., menegaskan bahwa tantangan di era modern memerlukan pendekatan berbasis riset. Dalam menghadapi perubahan yang cepat, APMNU menyediakan forum akademik yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, pengalaman praktis, dan nilai-nilai keislaman.
“APMNU hadir untuk memberdayakan Muslimat NU agar terus memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan peradaban,” ungkap Amany. Pernyataan ini menjadi semangat dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan, termasuk seminar dan diskusi yang membahas pola asuh yang ideal dalam konteks digital saat ini.
Transformasi Digital dan AI dalam Pendidikan
Transformasi digital dan kemajuan kecerdasan buatan (AI) menghadirkan berbagai peluang dan tantangan dalam pendidikan serta pola asuh anak. Dalam konteks ini, seminar nasional yang diadakan oleh APMNU mengangkat tema positive parenting dan pemanfaatan AI secara bijak. Seminar tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada orang tua dan pendidik tentang pentingnya mendampingi anak agar mereka dapat memanfaatkan teknologi dengan cara yang bertanggung jawab.
Majelis Bahtsul Masail dan Diskusi Isu Krusial
Selain seminar, APMNU juga menyelenggarakan Majelis Bahtsul Masail yang berfokus pada dua isu penting: pola asuh yang ideal untuk generasi digital dan langkah-langkah strategis dalam menciptakan lingkungan yang aman dari kekerasan seksual.
Melalui proses tashawwur al-mas’alah dan istinbath hukum Islam, hasil diskusi ini dirumuskan menjadi rekomendasi resmi yang disampaikan oleh Ketua APMNU. Ini menunjukkan komitmen APMNU untuk memberikan kontribusi yang nyata dalam perumusan kebijakan yang mendukung pendidikan yang aman dan berkualitas.
Keterlibatan Perempuan NU dalam Inovasi Keilmuan
Keterlibatan akademisi perempuan NU dalam forum ini tidak hanya memperkuat tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama, tetapi juga memperluas kontribusi mereka dalam berbagai bidang, mulai dari sosial hingga teknologi dan pemikiran Islam. Menurut Prof. Amany, penting bagi perempuan NU untuk memiliki kapasitas keilmuan yang kuat agar dapat berperan aktif dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Kolaborasi untuk Mencegah Kekerasan di Kampus
Pada kesempatan yang sama, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., menegaskan pentingnya pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan Kekerasan di kampus, khususnya di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jawa Timur. Upaya ini bertujuan untuk mencegah budaya kekerasan yang dapat merugikan generasi muda dan menciptakan lingkungan belajar yang aman.
Dyah menekankan bahwa pencegahan kekerasan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan kampus, pemerintah, keluarga, dan masyarakat. “Kita harus mencegah kekerasan agar tidak menjadi budaya yang merugikan anak-anak dan generasi penerus,” ucapnya, mengingatkan akan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan lingkungan yang aman dan sehat untuk pendidikan.
Strategi Penguatan Satgas untuk Lingkungan Pendidikan
Penguatan peran Satgas menjadi langkah strategis dalam mengantisipasi potensi kekerasan di lingkungan pendidikan. Menurut Dyah, penguatan ini penting untuk menciptakan ekosistem yang aman, sehat, dan berkeadaban. Dengan kolaborasi yang baik, diharapkan bisa terwujud lingkungan belajar yang kondusif bagi mahasiswa serta mendukung perkembangan mereka secara optimal.
Peran APMNU dalam Mewujudkan Positive Parenting di Era AI
APMNU berkomitmen untuk memadukan tradisi pesantren, akademisi, dan pengalaman Muslimat NU dalam menjawab tantangan era digital. Dalam Muktamar ke-35 NU, tema yang diusung adalah “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa,” yang merefleksikan semangat untuk terus berkontribusi dalam masyarakat.
Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis keilmuan, APMNU berharap dapat mendorong pola asuh yang positif di era AI. Hal ini penting agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak dan bertanggung jawab.
Menyiapkan Generasi Cerdas di Era Digital
Dalam konteks positive parenting di era AI, penting bagi orang tua dan pendidik untuk memahami bagaimana cara mendampingi anak dalam penggunaan teknologi. Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain:
- Mengajarkan penggunaan teknologi dengan cara yang bertanggung jawab.
- Memberikan batasan waktu penggunaan gadget untuk anak.
- Mendorong anak untuk terlibat dalam aktivitas non-digital yang konstruktif.
- Memfasilitasi diskusi terbuka tentang dampak positif dan negatif dari teknologi.
- Menjadi contoh yang baik dalam menggunakan teknologi.
Dengan pendekatan yang tepat, anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat.
Partisipasi APMNU dalam Muktamar ke-35 NU merupakan langkah penting dalam mendorong positive parenting di era AI. Melalui kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan masyarakat, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang mendukung perkembangan anak secara holistik.
➡️ Baca Juga: Bantuan Sembako PT TIMAH Ringankan Beban Nelayan Pesisir Kundur Selama Ramadan
➡️ Baca Juga: Ambisi Klub Promosi untuk Mempertahankan Posisi di Liga Teratas Nasional



