happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

slot gacor depo 10k slot depo 10k
Siantar - Simalungun, Sergai - Tebing

Tiga Pengayuh Tanjung Beringin Bertahan di Tengah Deru Mesin dengan Penghasilan Terbatas

Di tengah hiruk-pikuk kendaraan bermotor yang mendominasi jalanan, terdengar suara yang khas dan berbeda. Suara itu bukan deru mesin, melainkan bunyi kayuhan pedal yang menggerakkan roda becak dengan perlahan. Tiga lelaki, Saiful Makruf (67), Muhammad Yusuf (53), dan Amin, yang lebih akrab disapa Ngantuk (55), tetap berjuang mencari nafkah di Desa Pekan Tanjung Beringin dengan cara yang sederhana namun penuh makna.

Ketahanan di Tengah Persaingan

Bagi banyak orang, becak dayung mungkin adalah pengingat akan masa ketika transportasi berbasis tenaga manusia memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun kini, ditengah maraknya becak bermotor, ketiga pengayuh ini tetap setia pada cara tradisional mereka. Saiful, yang telah mengayuh becak sejak tahun 1995, adalah sosok yang paling lama menjalani profesi ini. Meskipun umurnya kini menginjak 67 tahun, ia tidak tergoda untuk beralih ke moda transportasi yang lebih modern.

“Saya telah menjadi pengayuh becak sejak tahun 1995. Ini adalah pekerjaan yang saya cintai dan saya jalani hingga sekarang,” ungkap Saiful ketika ditanya tentang perjalanan kariernya. Selama lebih dari tiga dekade mengayuh, ia telah menyaksikan perubahan besar di Tanjung Beringin, dimana kendaraan bermotor kini lebih mendominasi jalan dan mengubah cara masyarakat beraktivitas.

Dalam persaingan ini, dampaknya langsung terasa pada pendapatan yang mereka peroleh. “Persaingan dengan becak bermotor sangatlah berat. Pendapatan kami menurun drastis. Dalam sehari, saya hanya bisa mendapatkan sekitar Rp70.000,” ujarnya penuh keprihatinan. Dari jumlah tersebut, Saiful harus mencukupi kebutuhan keluarganya serta menyisihkan uang untuk perawatan becak yang menjadi alat utama mencari nafkah.

Perjuangan untuk Keluarga

Saiful memiliki empat anak, dua di antaranya telah menyelesaikan pendidikan menengah atas, sementara dua lainnya masih bersekolah. Setiap penumpang yang naik ke becaknya menjadi bagian penting dari penghasilannya di hari itu. Tarif perjalanan dari Pekan Tanjung Beringin menuju Titi Bantan misalnya, hanya sekitar Rp5.000, sama halnya dengan perjalanan menuju Desa Tebing Tinggi hingga TPI, di mana beberapa penumpang bahkan membayar hingga Rp10.000.

Walaupun jumlah tersebut terbilang kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan hidup sehari-hari, bagi Saiful, setiap rupiah dari kayuhan pedalnya sangat berarti. Ia sebenarnya memiliki keinginan untuk beralih ke becak bermotor untuk memudahkan pekerjaannya dan meningkatkan penghasilannya. Namun, keinginan itu terhalang oleh masalah modal. “Saya ingin memiliki becak bermotor, tetapi saya tidak punya cukup uang untuk membelinya,” keluhnya.

Senada dengan Saiful

Nasib yang kurang lebih sama juga dialami oleh Muhammad Yusuf dan Amin. Keduanya juga tetap mengandalkan becak dayung sebagai sumber penghasilan. Meskipun penghasilan yang diperoleh tidaklah besar, semangat mereka untuk terus berjuang demi keluarga tetap menyala. Dengan kendaraan bermotor yang semakin mendominasi, ketiga pengayuh ini tetap mengandalkan kekuatan kaki mereka untuk membawa pulang uang bagi keluarga.

Meskipun tantangan terus menghadang, becak dayung tetap memiliki pelanggan setia. Salah satunya adalah Suaibattul (61) yang tinggal di Jalan Merdeka. Ia mengaku lebih memilih becak dayung karena merasa nyaman dan santai selama perjalanan. “Naik becak dayung itu enak dan santai. Saya sudah menjadi pelanggan tetap mereka,” ungkap Habibah, sapaan akrabnya.

Peran Becak dalam Sejarah Tanjung Beringin

Tanjung Beringin sendiri memiliki sejarah yang kaya. Dalam catatan pemerintahan lokal, kawasan ini dulunya merupakan bagian dari Kerajaan Bedagai. Sejarah mencatat bahwa daerah ini dipimpin oleh seorang Datuk bergelar Datuk Amar Asmara yang berada di bawah naungan Raja Negeri Bedagai, Pangeran Tengku Sulung Laut.

Seiring berjalannya waktu, sistem pemerintahan dan kehidupan masyarakat mengalami perubahan. Aktivitas perdagangan dan perikanan menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, termasuk keberadaan pasar ikan yang menjadi pusat distribusi hasil perikanan bagi masyarakat. Dalam konteks ini, alat transportasi sederhana seperti becak menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat.

Mobilitas dan Adaptasi di Era Modern

Dengan perkembangan zaman, mesin kini telah mengambil alih banyak fungsi yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia. Perjalanan menjadi lebih cepat, jarak yang bisa ditempuh semakin jauh, dan pilihan kendaraan semakin beragam. Namun, perubahan ini tidak serta-merta menghilangkan keberadaan mereka yang masih menggantungkan hidup pada kayuhan pedal. Bagi Saiful, Yusuf, dan Amin, becak bukan sekadar alat transportasi, melainkan juga sumber nafkah utama mereka.

Setiap pagi, mereka menunggu penumpang dengan penuh harapan. Ketika ada yang memanggil, kaki mereka kembali mengayuh. Roda becak bergerak, membawa harapan untuk mendapatkan penghasilan yang cukup bagi keluarga mereka. Di tengah deru kendaraan bermotor yang semakin memenuhi jalur-jalur di Tanjung Beringin, suara kayuhan pedal mereka mungkin semakin meredup, tetapi selama masih ada penumpang yang membutuhkan dan keluarga yang menunggu di rumah, mereka akan terus berjuang.

Harapan di Tengah Keterbatasan

Dalam setiap kayuhan, tersimpan harapan dan semangat untuk bertahan. Saiful, Yusuf, dan Amin adalah contoh nyata dari ketahanan dan kerja keras di tengah tantangan yang ada. Mereka tidak hanya mencari nafkah, tetapi juga menjaga tradisi dan cara hidup yang telah ada selama bertahun-tahun. Meskipun dunia berubah, semangat untuk bertahan hidup dan memberikan yang terbaik bagi keluarga tetap menjadi prioritas utama.

  • Saiful Makruf (67) – pengayuh becak dengan pengalaman 31 tahun.
  • Tarif perjalanan becak dayung sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000.
  • Muhammad Yusuf (53) dan Amin alias Ngantuk (55) – rekan sesama pengayuh.
  • Keberadaan pelanggan setia seperti Suaibattul (61) yang memilih becak dayung.
  • Sejarah Tanjung Beringin yang terkait dengan Kerajaan Bedagai.

Dalam setiap keringat yang menetes, ada cerita-cerita kehidupan yang penuh makna. Tiga pengayuh Tanjung Beringin ini adalah wujud nyata dari perjuangan dan keteguhan hati. Mereka menantang perubahan, tetap berpegang pada tradisi, dan menunjukkan bahwa di balik setiap kayuhan pedal, ada harapan yang terus hidup.

    ➡️ Baca Juga: Anggota DPR RI Lokot Nasution Berikan 25 Beasiswa Tahfiz untuk Mahasiswa UMA

    ➡️ Baca Juga: Forwakum FC Menang 1-0 atas PFI dan Lolos ke 8 Besar Mini Soccer Porwasu 2026

    Back to top button